10 Alasan Resign Kerja dari Perusahaan

alasan resign dari pekerjaan

Pada saat tertentu, banyak orang yang mengeluh soal pekerjaan mereka, namun ada beberapa yang memang mencintai pekerjaannya karena posisi yang baik, dan gaji yang tinggi.

Akan tetapi, tak sedikit juga yang memilih untuk berhenti kerja atau resign dari pekerjaan. Karyawan resign dari pekerjaan merupakan hal umum yang terjadi di dunia kerja.

Namun, bila terjadi berulang kali dan banyak karyawan terbaik resign, sudah saatnya perusahaan melakukan evaluasi. Oleh sebab itu, KaryaONE merangkum 10 alasan resign kerja yang sering terjadi di perusahaan.

1. Karyawan Merasa Tidak Dihargai

Penelitian menunjukkan lebih dari 58% karyawan merasa tidak dihargai di perusahaan, sehingga ingin berhenti kerja. Lalu, 66% dari mereka mengaku memiliki masalah mengenai besarnya upah yang dianggap tidak sesuai dengan beban kerja.

Sementara sisanya merasa pekerjaannya tidak dihargai. Untuk itu, pastikan karyawan Anda merasa dihargai atas setiap pekerjaan dan pencapaian yang mereka lakukan.

Hargai komitmen dan hak mereka di luar jam kerja atau kantor, karena mereka juga memiliki aktivitas lain selain bekerja.

2. Manajer yang Buruk

Seorang karyawan yang pintar, terampil dan produktif tak menjamin dirinya bisa menjadi seorang manajer yang baik. Anda harus menginvestasikan waktu, biaya, dan tenaga untuk memberikan pelatihan bagi para calon pemimpin masa depan perusahaan.

37% karyawan memberikan penilaian buruk untuk manajer atau atasan mereka, sehingga pelatihan untuk para calon manajer adalah hal penting yang harus Anda pertimbangkan untuk dilakukan.

Baca juga:  Cara Mencari Kandidat Karyawan Berkualitas

3. Komunikasi yang Buruk

Pada survey yang dilakukan terhadap 210.000 karyawan, lebih dari setengah total tersebut mengaku tidak puas dengan informasi yang ia terima dari manajemen kantor.

Pastikan terjadi komunikasi dua arah yang baik antara manajemen dengan karyawan untuk menghindari kesalahpahaman yang bisa terjadi.

4. Pekerjaan Mereka Tak Diakui

Karyawan yang konsisten merasa puas karena pekerjaannya diakui atau dikenali orang lain, kecil kemungkinan untuk resign dari perusahaan.

Sebaliknya, salah satu alasan resign yang sering terjadi biasanya karena perusahaan tak mengenali atau menyadari hasil pekerjaan karyawannya sendiri.

Hal seperti ini bisa membawa perusahaan tersebut kepada turnover karyawan yang besar.

5. Tidak Mendapatkan Promosi Atau Kenaikan Jabatan

36% karyawan mengaku tak pernah diberikan penawaran untuk kenaikan jabatan. Memberikan kenaikan gaji memang hal yang bagus, akan tetapi hal itu tak cukup karena karyawan ingin diri mereka bisa berkembang dengan posisi dan jabatan yang baru.

6. Kurangnya Pelatihan yang Diberikan

Kurangnya pelatihan terhadap karyawan akan berujung pada sebuah keadaan yang stagnan karena karyawan tak akan berkembang. Perusahaan yang tidak mementingkan pelatihan akan berangsur-angsur menjadi tak produktif dan kurang efisien.

7. Tidak Memiliki Kesempatan untuk Melakukan Sesuatu

Tidak ada karyawan yang suka untuk terus berada di satu posisi atau mencapai sesuatu tanpa adanya usaha yang dilakukan. Melainkan, mereka ingin melakukan sesuatu yang berarti untuk sukses mencapai tujuan.

Baca juga:  3 Pertanyaan Interview untuk Mendapat Kandidat Millennials Terbaik

Namun, 45% karyawan mengaku tidak adanya kesempatan untuk melakukan sesuatu yang besar, sementara lainnya langsung memutuskan untuk pindah kerja atau mencari kesempatan tersebut di tempat yang baru.

8. Beban Kerja yang Berlebihan

Penelitian menunjukkan, bahwa 39% karyawan tidak puas dengan proporsi keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi mereka, dan 80% ingin jam kerja yang dikurangi.

Tuntutan bekerja lembur merupakan salah satu alasan resign yang kuat bagi karyawan untuk pindah dari tempat kerjanya. Oleh karena itu, pastikan komunikasi antara semua divisi dan tim berjalan dengan baik agar semua pekerjaan selesai tepat waktu tanpa perlu waktu lembur.

9. Karyawan Merasa Tidak Dipercaya

Salah satu nilai berharga yang berpengaruh di perusahaan adalah kepercayaan, kejujuran dan keadilan. 80% karyawan mengatakan bahwa rasa tidak percaya dari atasan atau teman satu tim akan membuat mereka memutuskan untuk resign dari pekerjaan.

10. Karyawan Tidak Mengetahui Tujuan Perusahaan

Sekitar 68% karyawan merasa bahwa perusahaan tidak berusaha cukup keras untuk membuat tujuan tertentu. Mereka ingin agar perusahaan memiliki tujuan yang besar, di mana mereka bisa memberikan kontribusi di dalamnya.

Informasikan mengenai tujuan perusahaan kepada semua karyawan, terlebih karyawan baru agar mereka mengerti dengan jelas peran masing-masing untuk mencapai tujuan tersebut.

Sumber:
TheUnderCoverRecruiter: 10 Reasons Why People Quit Their Jobs

Comments (2)

  • Hendrik Reply

    saya mau bertanya apakah karyawan yg resign mendapatkan uang peganti hak atau uang masa kerja?krn saya sdh bekerja belasan tahun tdk mendapatkan nya malah owner bilang kalau karyawan yg resign memang tdk dpt apa2..mohon saya dibantu tuk mendapatkan hak saya..
    Teeimakasih

    Maret 13, 2018 at 6:40 pm
    • Admin KaryaONE Reply

      Halo Bpk. Hendrik,
      Untuk memahami mengenai uang pengganti hak, kita bisa membaca peraturan berikut :
      Bagi karyawan yang mengundurkan diri -atas kemauan sendiri- (resign), sebagaimana diatur dalam Pasal 162 ayat (1) UUK, hanyalah berhak atas Uang Penggantian Hak (“UPH”) sebagaimana terinci dalam Pasal 156 ayat (4) UUK. Disamping itu -khusus- bagi karyawan yang tugas dan fungsinya tidak mewakili kepentingan pengusaha secara langsung, -maksudnya- non-management committee, berdasarkan Pasal 162 ayat (2) UUK juga berhak -diberikan- Uang Pisah yang nilainya dan pelaksanaan pemberiannya, merupakan kewenangan (domain) para pihak untuk memperjanjikannya dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan/perjanjian kerja bersama.

      Berdasarkan ketentuan Pasal 156 ayat (4) UUK, UPH meliputi:

      a. Hak cuti tahunan yang belum diambil (belum gugur) saat timbulnya di masa tahun berjalan, perhitungannya: 1/25 x (upah pokok + tunjangan tetap) x sisa masa cuti yang belum diambil.

      b. Biaya ongkos pulang ke tempat (kota) di mana diterima pada awal kerja (beserta keluarga).

      c. Uang penggantian perumahan/pengobatan 15%* dari UP dan UPMK (berdasarkan Surat Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi kepada para Kepala Dinas yang bertanggung jawab di bidang Ketenagakerjaan No. 600/MEN/SJ-HK/VIII/2005 tanggal 31 Agustus 2005).

      *Catatan: Uang ini tidak didapatkan bagi yang resign (mengundurkan diri secara sukarela), karena faktor perkaliannya (yakni UP dan UPMK) nihil. Sehingga: 15% x nihil = nol.

      d. Hal-hal lain yang timbul dari perjanjian (baik dalam perjanjian kerja, dan/atau peraturan perusahaan atau perjanjian kerja bersama), seperti bonus, insentif dan lain-lain yang memenuhi syarat.

      Berapa besaran dan nilai Uang Pisah dimaksud, sangat bergantung dari nilai yang ditentukan dalam perjanjian kerja dan/atau peraturan perusahaan/perjanjian kerja bersama.

      Jadi, mungkin dapat dilihat lagi hak-hak yang Bapak terima sesuai perjanjian kerja. Untuk lebih detail mengenai hal ini dapat dilihat di sini http://www.hukumonline.com/klinik/detail/lt524bcbc546c20/apakah-pekerja-yang-mengundurkan-diri-akan-dapat-pesangon

      Semoga jawaban ini membantu.

      Terima kasih

      Maret 20, 2018 at 1:35 pm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *