Contoh Studi Kasus Perhitungan FIFO, LIFO, AVERAGE di Perusahaan

fifo lifo average

FIFO, LIFO, AVERAGE – Persediaan merupakan barang yang dimiliki perusahaan dengan tujuan untuk dijual kembali atau digunakan dalam operasi perusahaan. Bagaimana cara mengelola persediaan dengan baik? Bagaimana menentukan nilai Rupiah persediaan ketika harga beli terus berubah?

Solusinya adalah dengan sistem FIFO, LIFO atau Average.

Setelah membaca artikel ini, Anda akan memahami pengertian ketiga sistem perhitungan persediaan tersebut, asal mula mengapa perhitungan FIFO, LIFO, AVERAGE, dan contoh studi kasus cara menghitung dengan 3 metode tersebut agar Anda paham bagaimana mengaplikasikannya di perusahaan.

Aplikasi HR Berbasis Cloud KaryaOne

Apa yang akan Anda dapatkan dengan sistem pengelolaan persediaan?

Anda bisa melindungi persediaan dari kerusakan atau pencurian dengan cara sbb.

1. Melakukan pencatatan persediaan segera dilakukan saat persediaan diterima.

Apa saja dokumen yang digunakan untuk pencatatan persediaan?

  • Pesanan pembelian (purchase order), memberi wewenang atas pembelian suatu barang dari pemasok.
  • Laporan penerimaan (receiving report), harus dilengkapi segera setelah barang diterima. Laporan penerimaan harus dilengkapi oleh departemen penerimaan perusahaan sebagai akuntabilitas awal atas persediaan. Untuk memastikan persediaan yang diterima adalah barang yang dipesan, laporan penerimaan harus sesuai dengan pesanan pembelian barang yang dikeluarkan perusahaan.
  • Buku besar pembantu persediaan (subsidiary inventory ledger), menggunakan sistem persediaan perpetual untuk perusahaan dagang juga menghasilkan alat pengendalian yang efektif atas persediaan. Informasi mengenai jumlah setiap jenis barang selalu tersedia dalam subsidiary inventory ledger.

2. Melakukan pengembangan dan pengamanan keamanan untuk mencegah kerusakan persediaan atau pencurian oleh pelanggan atau karyawan.

Berikut adalah beberapa contoh tindakan pengamanan :

  1. Persediaan harus disimpan di sebuah gudang atau suatu area yang hanya bisa diakses oleh karyawan yang telah diberi kuasa.
  2. Barang berharga yang mahal disimpan di lemari terkunci.
  3. Memasang cctv dan dijaga security.

Anda dapat memastikan keakuratan laporan persediaan dalam laporan keuangan

Untuk memastikan jumlah persediaan yang dilaporkan dalam laporan keuangan akurat, sebuah perusahaan dagang perlu melakukan penghitungan fisik persediaan (physical inventory), yaitu menghitung persediaan secara fisik.

Setelah jumlah persediaan yang tersedia dihitung, biaya perolehan persediaan dimasukkan ke dalam laporan keuangan.

Kebanyakan perusahaan menggunakan satu di antara tiga metode untuk menentukan biaya perolehan persediaan.

Apa itu Sistem FIFO, LIFO dan AVERAGE?

Sistem FIFO, LIFO dan Average adalah sistem yang digunakan untuk menghitung biaya persediaan.

Pada saat perusahaan membeli barang untuk persediaan, harga barang yang sama biasanya selalu berubah setiap periode pembelian yang berbeda.

Hal ini tentu menjadi pertanyaan, bagaimana menentukan biaya persediaan jika harga barang sama yang dibeli selalu berubah-ubah.

Bagaimana menentukan biaya per unit jika suatu saat barang tsb akan dijual ?

Departemen akuntansi perlu dapat  menentukan biaya per unit dengan menggunakan asumsi arus biaya.

Apa itu asumsi arus biaya?

Untuk mempermudah lihat ilustrasi contoh 3 unit barang identik yang dibeli selama bulan Mei.

ilustraasi Fifo Lifo Average

Metode Fifo Lifo Average

Jika unit tersebut dapat dikenali di setiap pembelian, maka metode identifikasi spesifik (specific identification method) dapat digunakan untuk menghitung biaya unit yang terjual.

Metode identifikasi spesifik tidak praktis, kecuali setiap unit dapat dikenali secara akurat.

Misalnya dealer mobil yang dapat menggunakan metode ini karena setiap mobil memiliki nomor seri yang unik.

Pengertian Metode FIFO, LIFO dan Average

Saat metode FIFO ( first‐in, first‐out ) digunakan, persediaan akhir berasal dari biaya paling baru, yaitu barang‐barang yang dibeli paling akhir.

Sebaliknya, saat metode LIFO ( last‐in, first‐out ) digunakan, persediaan akhir berasal dari biaya paling awal, yaitu barang‐barang yang dibeli pertama kali.

Sementara saat metode biaya average (weighted average inventory cost flow method) atau sering disebut metode biaya rata‐rata (average cost flow method) digunakan, biaya unit persediaan merupakan rata-rata biaya pembelian.

Metode Biaya Persediaan dalam Sistem Persediaan Perpetual

Metode FIFO, LIFO, dan Average diilustrasikan dalam sistem persediaan perpetual. Sebagai contoh, berikut ilustrasi untuk setiap metode menggunakan data untuk barang 127B.

Barang 127B Fifo Lifo Average

Metode Masuk‐Pertama, Keluar‐ Pertama ( FIFO )

Saat metode FIFO dari biaya persediaan digunakan, biaya dimasukkan dalam beban pokok penjualan dengan urutan yang sama saat biaya tersebut terjadi.

Metode FIFO sering konsisten dengan arus fisik atau pergerakan barang.

Oleh karena itu, metode FIFO memberikan hasil yang kurang lebih sama dengan hasil yang diperoleh dari metode identifikasi biaya spesifik untuk setiap unit terjual dan yang masih berada dalam persediaan.

Ayat Jurnal dan Akun Persediaan Perpetual ( FIFO )

Ayat Jurnal dan Akun Persediaan Perpetual ( FIFO )

1. Saldo awal 1 Januari sebesar Rp 20.000.000 (1.000 unit dengan biaya tiap unit Rp 20.000).

2. Pada 4 Januari, terjual 700 unit dengan harga Rp 30.000 / unit sehingga total penjualan adalah Rp 21.000.000 (700 unit × Rp 30.000). Beban pokok penjualan adalah Rp 14.000.000 (700 unit dengan biaya per unit Rp 20.000).

Setelah penjualan, sisa persediaan adalah Rp 6.000.000 (300 unit dengan biaya per unit Rp 20.000).

3. Pada 10 Januari, dilakukan pembelian senilai Rp 11.200.000 (500 unit dengan harga per unit Rp 22.400).

Setelah pembelian, dalam laporan persediaan ditulis ke dalam 2 baris, Rp 6.000.000 (300 unit dengan biaya per unit Rp 20.000) yang merupakan persediaan awal dan Rp 11.200.000 (500 unit dengan biaya per unit Rp 22.400) yaitu pembelian di 10 Januari.

4. Pada 22 Januari, sebanyak 360 unit terjual dengan harga Rp 30.000 per unit sehingga total penjualan adalah Rp 10.800.000 (360 unit × 30.000).

Dengan menggunakan FIFO, beban pokok penjualan adalah sebesar Rp 7.344.000 yang terdiri atas Rp 6.000.000 (300 unit dengan biaya per unit 20.000), yang merupakan saldo awal, ditambah Rp 1.344.000 (60 unit dengan biaya per unit Rp 22.400) yaitu pembelian pada 10 Januari.

Setelah penjualan, persediaan tersisa sebesar Rp 9.856.000 (440 unit dengan biaya per unit Rp 22.400) yaitu pembelian pada 10 Januari.

5. Penjualan pada 28 Januari dan 30 Januari dicatat dengan cara yang sama.

6. Saldo akhir pada 31 Januari adalah sebesar Rp 18.460.000. Saldo ini terdiri atas dua lapis persediaan sebagai sebagai berikut.

saldo akhir FIFO

Metode Masuk‐Terakhir, Keluar‐ Pertama ( LIFO )

Saat metode LIFO digunakan digunakan dalam sistem persediaan perpetual, biaya unit yang terjual merupakan biaya dari pembelian yang terakhir.

Penggunaan metode LIFO awalnya dibatasi pada situasi yang sangat jarang di mana unit yang terjual diambil dari barang yang diperoleh paling akhir.

Tetapi, untuk tujuan perpajakan, saat ini metode LIFO banyak digunakan meskipun metode ini tidak mencerminkan arus fisik unit.

Ayat Jurnal dan Akun Persediaan Perpetual (LIFO)

Ayat Jurnal dan Akun Persediaan Perpetual (LIFO)

1. Saldo awal pada 1 Januari adalah sebesar Rp 20.000.000 (1.000 unit dengan biaya tiap unit Rp 20.000).

2. Pada 4 Januari, terjual 700 unit dengan harga jual Rp 30.000 per unit sehingga total penjualan adalah Rp 21.000.000 (700 unit × Rp 30.000).

Beban pokok penjualan adalah Rp 14.000.000 (700 unit dengan biaya per unit Rp 20.000).

Setelah penjualan, sisa persediaan adalah Rp 6.000.000 (300 unit dengan biaya per unit Rp 20.000).

3. Pada 10 Januari, dilakukan pembelian senilai Rp 11.200.000 (500 unit dengan harga per unit Rp 22,400).

Setelah pembelian, dalam laporan persediaan ditulis ke dalam 2 baris, Rp 6.000.000 (300 unit dengan biaya per unit Rp 20.000) yang merupakan persediaan awal dan Rp 11.200.000 (500 unit dengan biaya per unit Rp 22.400) yaitu pembelian pada 10 Januari.

4. Pada 22 Januari, sebanyak 360 unit terjual dengan harga Rp 30.000 per unit sehingga total penjualan adalah Rp 10.800.000 (360 unit × 30.000).

Dengan menggunakan LIFO, beban pokok penjualan adalah sebesar Rp 8.064.000 (360 unit dengan biaya per unit 22.400) yang merupakan pembelian pada 10 Januari.

Setelah penjualan, persediaan tersisa sebesar Rp  9.136.000 yang terdiri atas Rp 6.000.000 (300 unit dengan biaya per unit Rp 20.000) yang merupakan saldo awal dan Rp 3.136.000 (140 unit dengan biaya per unit Rp 22.400) yaitu pembelian pada 10 Januari.

5. Penjualan pada 28 Januari dan 30 Januari dicatat dengan cara yang sama.

6. Saldo akhir pada 31 Januari adalah sebesar Rp 17.980.000. Saldo ini terdiri atas dua lapis persediaan sebagai berikut.

saldo akhir LIFO

Metode Biaya Average

Saat metode ini digunakan dalam sistem persediaan perpetual, biaya unit average dihitung setiap ada pembelian yang dilakukan.

Biaya unit ini digunakan untuk menentukan beban pokok penjualan sampai pembelian berikutnya dilakukan dan nilai rata‐rata baru dihitung.

Teknik ini disebut rata-rata bergerak (moving average).

Ayat Junal dan akun persediaan perpetual (biaya rata rata)

Ayat Jurnal dan Akun Persediaan Perpetual (Biaya Rata Rata)

1. Saldo awal pada 1 Januari adalah sebesar Rp 20.000.000 (1.000 unit dengan biaya tiap unit Rp 20.000)

2. Pada 4 Januari, terjual 700 unit dengan harga jual Rp 30.000 per unit sehingga total penjualan adalah Rp 21.000.000 (700 unit × Rp 30.000).

Beban pokok penjualan adalah Rp 14.000.000 (700 unit dengan biaya per unit Rp 20.000).

Setelah penjualan, sisa persediaan adalah Rp 6.000.000 (300 unit dengan biaya per unit Rp 20.000 ).

3. Pada 10 Januari, dilakukan pembelian senilai Rp 11.200.000 (500 unit dengan harga per unit Rp 22.400).

Setelah pembelian, biaya rata ‐rata tertimbang senilai Rp 21.500 dihitung dengan membagi jumlah biaya persediaan tersedia senilai Rp 17.200.000 (Rp 6.000.000 + Rp 11.200.000) dengan jumlah persediaan tersedia sebanyak 800 (300 + 500) unit.

Dengan demikian, setelah pembelian, jumlah biaya persediaan adalah Rp 17.200.000 yang terdiri atas 800 unit dengan biaya per unit Rp 21.500.

4. Pada 22 Januari, sebanyak 360 unit terjual dengan harga Rp 30.000 per unit sehingga total penjualan adalah Rp 10.800.000 (360 unit × 30.000).

Dengan menggunakan metode biaya average, beban pokok penjualan adalah sebesar Rp 7.740.000 (360 unit dengan biaya per unit 21.500).

Setelah penjualan, persediaan tersisa sebesar Rp 9.460.000 (440 unit dengan biaya per unit Rp 21.500).

5. Penjualan pada 28 Januari dan 30 Januari dicatat dengan cara yang sama.

6. Saldo akhir pada 31 Januari adalah sebesar Rp 18.280.000 (800 unit dengan biaya per unit Rp 22.850).

Itulah contoh studi kasus perhitungan persediaan dengan menggunakan metode FIFO, LIFO dan AVERAGE. Semoga bermanfaat bagi dan terimakasih.

 

Banner KaryaOne - Aplikasi Penggajian Karyawan Terbaik

 

__________
KaryaONE adalah Software HR dan Payroll System Indonesia yang membantu menyederhanakan proses administrasi SDM, sehingga Anda bisa lebih fokus pada bisnis Anda. Solusi yang kami berikan meliputi pengelolaan absensi, cuti, izin, lembur, penggajian, dan talent management. KaryaONE terjangkau bagi semua kalangan pelaku bisnis, mulai dari UKM, UMKM hingga korporasi. Gunakan KaryaONE sekarang juga, coba gratis 30 Hari atau undang demo.

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *