7 Alasan Mengapa HRD Dibenci Banyak Karyawan

karyawan membenci hrd

Salah satu permasalahan yang sering terjadi dalam sebuah perusahaan adalah masalah antara karyawan dengan pihak HRD.

Umumnya karyawan merasa hak mereka tidak diperhatikan, dianggap tidak kompeten dalam bekerja, bahkan ada saja karyawan yang bercerita bahwa pihak HRD dalam perusahaan mereka tidak mau mengambil pusing mengenai kasus kekerasan (biasanya seksual) yang terjadi dalam kantor.

Semua alasan tersebut kemudian menyebabkan hubungan antara karyawan dan HRD menjadi buruk. Padahal seharusnya HRD lah yang menjadi jembatan antara karyawan dengan perusahaan. Agar tidak terjadi hal serupa dalam perusahaan Anda, sebaiknya ketahui terlebih dahulu mengenai alasan mengapa HRD sering dibenci oleh karyawan sehingga sebagai pemimpin/pemilik perusahaan Anda bisa mengawasi hal-hal ini:

1. Peran HRD

Staff HRD “terjebak” dalam peran sebagai advokat bagi karyawan sekaligus mitra bisnis dan advota bagi perusahaan pula. Kedua peran yang harus dijalankan oleh HRD inilah yang terkadang tidak disadari oleh karyawan.

Karyawan menganggap keberhasilan HRD dari aspek pemenuhan kebutuhan dan hak karyawan. Misalnya salah satu karyawan membutuhkan sesuatu hal, namun ia tidak sadar bahwa HRD harus memberikan dan memberlakukan hal yang sama pada semua karyawan. Pada akhirnya HRD tidak bisa memenuhi permintaan tersebut dan berujung dengan karyawan terkait tidak menyukainya.

2. Informasi Sensitif Karyawan

Semua informasi mengenai karyawan bersifat rahasia, termasuk mengenai permasalahan masing-masing beserta dengan penyelesaiannya.

Seorang staf HRD dapat memberitahukan misalnya kepada seorang karyawan bahwa masalah mereka di dalam perusahaan telah diselesaikan. Namun HRD tidak akan memberitahukan lebih lanjut dan detail. Hal ini kemudian dapat menyebabkan karyawan mengeluh karena menganggap masalah mereka belum selesai.

3. HRD Butuh Bukti Fisik Mengenai Suatu Permasalahan

Selain bukti fisik, HRD juga membutuhkan saksi mata jika ada lebih dari satu karyawan mengalami hal yang sama. Pasalnya sulit untuk berbuat sesuatu jika karyawan hanya mengajukan protes secara verbal saja, apalagi jika pihak terkait menampik hal yang dilaporkan.

4. Miss Komunikasi

Terkadang, apa yang dianggap karyawan sebagai sesuatu yang salah (misalnya mengenai perilaku atasan atau rekan kerja), belum tentu dianggap demikian oleh HRD. Hal ini kemudian membuat protes dari karyawan tidak ditanggapi oleh HRD.

5. Tidak Cocoknya Pekerjaan

Ketika karyawan merasa tidak cocok dengan gaya bekerja di perusahaan atau tugas yang dibebaninya, HRD tak dapat mencarikan tugas dan lingkungan baru bagi mereka. Jika hal ini terus dibiarkan terjadi, maka sangat besar kemungkinan karyawan akan semakin mengeluh dan protes.

6. Janji Atasan

HRD tidak tahu menahu mengenai janji-janji yang sering diberikan oleh atasan. Misalnya mengenai kenaikan gaji, promosi, hari libur tambahan dan sebagainya. HRD baru akan mengetahui hal tersebut jika pihak atasan dan karyawan membuat perjanjian tertulis.

7. HRD Tidak Bisa Memberi Keputusan

Keputusan yang dibuat dalam perusahaan bukan berasal dari HRD, melainkan pemimpin atau pemilik perusahaan. HRD yang baik tidak akan menyalahkan pemimpin atau pemilik secara terang-terangan ketika ada karyawan yang mengeluh tentang suatu peraturan. Melainkan mereka justru harus membantu karyawan menjalankan peraturan tersebut.

Jika seorang HRD mampu mendengarkan dan berkomunikasi dengan baik terhadap karyawan, maka karyawan mampu mengerti tentang alasan-alasan di balik peraturan yang tidak mereka sukai itu,

Sumber:
TheBalance: Reasons Why HR Is Often Misunderstood

Baca juga:  4 Tanda Karyawan Akan Segera Resign dari Pekerjaan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *