5 Hal yang Bisa Menghancurkan Budaya Perusahaan

budaya-perusahaan

Budaya perusahaan yang dirancang dan dijalankan dengan baik bisa meningkatkan produktivitas dan performa karyawan dalam bekerja. Bahkan budaya perusahaan bisa mempengaruhi kebahagiaan karyawan dan mengurangi tingkat absen kerja.

Di sisi lain, mengabaikan budaya perusahaan bisa berdampak sebaliknya baik terhadap karyawan, reputasi perusahaan dan juga upaya perekrutan karyawan baru.

Sementara itu, data penelitan oleh Deloitte menunjukkan bahwa hanya 12% karyawan yang mengaku atasan mereka telah mencontohkan budaya perusahaan dengan baik.

Ada banyak hal yang bisa menghancurkan budaya perusahaan sekaligus menyebabkan tingkat turnover yang tinggi serta merendahkan minat para pencari kerja untuk melamar di perusahaan Anda.

1. Kasus Bullying

Bullying tidak hanya terjadi di tingkat sekolah atau universitas saja, melainkan juga banyak ditemukan di lingkungan kerja.

Tindakan ini dapat mempengaruhi kesejahteraan karyawan dalam berbagai bentuk, seperti kritik yang tidak adil dan jujur, pencurian hasil kerja, komentar sarkastik atau kasar dan perlakuan tidak sopan.

Bahkan merendahkan rekan kerja, menolak memberikan pujian dan mengabaikan masukan karyawan juga dapat dikategorikan sebagai tindak bullying.

75% karyawan dilaporkan mengalami bullying dalam perjalanan karir mereka dan hal ini merupakan masalah besar yang tidak boleh diabaikan. Jika Anda mengabaikan tindakan tersebut, maka karyawan akan menganggap hal tersebut boleh dilakukan dan lama-kelamaan akan menjadi “budaya” perusahaan.

Baca juga:  Soft Skill yang Harus Dimiliki dalam Dunia Kerja

2. Perusahaan Kurang Fleksibel dan Tidak Melakukan Perubahan

Perusahaan yang modern harus mampu berpikiran terbuka dan beradaptasi dengan perubahan yang ada. Sebagai pemilik perusahaan, pastikan Anda terus mengikuti tren manajemen performa untuk menjaga engagement karyawan.

Tradisi atau cara lama bukanlah alasan untuk tidak mau melakukan perubahan jika memang demi kemajuan perusahaan. Yakinkan karyawan bahwa Anda bersedia menerima umpan balik (feedback) atau bahkan kritikan mengenai apapun.

Perusahaan yang tidak fleksibel akan sulit mengembangkan kemampuan karyawan dan perusahaannya karena menutup diri dari kemajuan lingkungan sekitar.

Menjadi perusahaan yang terbuka terhadap karyawan menunjukkan bahwa Anda memprioritaskan inovasi dan efisiensi. Sementara perusahaan yang enggan melakukan perubahan mengindikasikan bahwa bisnis Anda tidak akan berkembang di masa depan.

3. Kurangnya Komunikasi

Komunikasi adalah salah satu elemen terpenting untuk mencapai tujuan perusahaan, baik perusahaan besar atau hanya bisnis kecil.

Komunikasi yang baik antara semua pihak, termasuk atasan dan bawahan, akan membuat karyawan merasa nyaman untuk menuangkan ide-ide mereka.

Pastikan para manajer meluangkan waktu mereka untuk mendengarkan apa yang ingin dikatakan karyawan. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan peduli dan ingin membantu karyawan untuk berkembang.

Baca juga:  Resiliensi & Pengaruhnya Terhadap Kinerja Karyawan

Atasan yang tidak memiliki komunikasi dengan bawahan ataupun rekan kerjanya sendiri, bisa menyebabkan kesalahpahaman baik dalam hal pekerjaan ataupun hubungan personal dan tim.

4. Tidak Transparan

Tidak hanya komunikasi biasa, melainkan komunikasi secara transparan lah yang harus berlaku di perusahaan. Jika para manajer tidak terbuka kepada karyawan, maka karyawan tak akan berani memulai percakapan yang berarti.

Manajer dan perusahaan yang baik bersedia untuk melakukan diskusi dengan karyawan mengenai nilai, tujuan, goal dan perubahan perusahaan.

Walaupun mungkin memang ada beberapa rahasia perusahaan yang tidak boleh dibocorkan, namun sebaiknya Anda bersikap transparan mengenai semua hal lain yang berkaitan dengan pekerjaan sehari-hari.

5. Memberikan Peringkat Performa untuk Karyawan Tertentu

Jika sebelumnya banyak perusahaan yang menerapkan sistem pemberian peringkat kepada karyawan, kini hal tersebut sudah mulai banyak ditinggalkan.

Pasalnya, selain menurunkan motivasi dan produktivitas, pemberian insentif kepada karyawan tertentu dapat menurunkan tingkat demoralisasi.

Selain itu, terlalu fokus pada penilaian kinerja karyawan juga bisa menyebabkan persaingan yang tidak sehat. Pemberian peringkat ini dijadikan sebagai sebuah ajang pembuktian diri kepada perusahaan namun belum tentu dijalankan secara jujur dan adil.

Sumber:
Recruiter: 5 Toxic Elements That May Be Destroying Your Company Culture

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *