5 Peraturan Perusahaan yang Tidak Disukai Karyawan

peraturan perusahaan

Peraturan perusahaan dibuat dengan tujuan tertentu, salah satunya untuk membuat keadaan tempat kerja menjadi kondusif serta teratur.

Paling tidak dapat dijadikan sebagai pedoman bagi semua karyawan dalam menjalankan pekerjaan dengan baik agar bisa membantu perusahaan mencapai tujuannya.

Walaupun demikian, ternyata ada beberapa peraturan perusahaan yang kurang disukai oleh karyawan. Apa saja? Simak ulasannya berikut ini.

1. Kebijakan Izin Berbayar dan Tidak Berbayar

Setiap perusahaan memiliki kebijakan masing-masing mengenai hal ini. Biasanya izin sakit diberikan kepada karyawan yang sakit dengan tidak memotong gaji atau jatah cuti.

Akan tetapi dalam beberapa kasus, kebijakan ini bisa menjadi masalah ketika karyawan terpaksa harus izin dengan alasan lain yang mendesak namun terkena pemotongan gaji.

Misalnya, Anda harus meminta izin karena anak atau orang tua sedang sakit, kemungkinan besar gaji atau jatah cuti Anda akan dipotong.

Sementara itu ada rekan kerja lain yang izin hanya dengan alasan sedang batuk namun tetap diberikan izin tanpa potongan apapun. Tentunya tidak ada karyawan yang akan dengan senang hati menerima keputusan atau kebijakan tersebut.

Oleh karena itu, sebaiknya kebijakan seperti ini ditinjau kembali dengan penyesuaian yang baru. Ambil keputusan untuk melakukan pemotongan gaji atau cuti berdasarkan alasan sebenarnya yang diajukan karyawan.

2. Wewenang Melakukan Perpindahan Divisi

Contoh dari hal ini adalah ketika ada manajer yang seenaknya memindahkan karyawan ke divisi lain tanpa adanya diskusi terlebih dulu dengan karyawan bersangkutan.

Baca juga:  Apa itu Kurs Pajak? Inilah Penjelasan Ringkasnya

Sulit dibayangkan bila Anda menerima keputusan bahwa akan dipindah ke divisi lain. Itu artinya Anda memiliki tugas dan tanggung jawab serta lingkungan yang berbeda sehingga harus kembali melakukan adaptasi.

Jika kebijakan seperti ini ada di perusahaan Anda, bersiaplah mengalami turnover yang cukup tinggi. Dengan kata lain, tidak ada karyawan yang senang dipindahkan untuk melakukan sesuatu secara mendadak.

Lebih baik biarkan karyawan mengajukan sendiri permohonan perpindahan divisi jika mereka memang menginginkannya.

3. Larangan Komplain ke HRD

Maksud larangan di sini bukan merupakan sebuah peraturan tertulis yang berlaku di perusahaan. Namun kondisi dan suasana yang menyebabkan karyawan tidak dapat menyampaikan komplain atau keluh kesahnya ke HRD.

Hal ini biasa terjadi pada perusahaan yang mana divisi HR kurang bersahabat dengan karyawan. Bisa saja disebabkan karena HRD terlalu berpihak pada perusahaan dan menjalankan peraturan yang terlalu baku.

Pada akhirnya semua masalah yang ada hanya dipendam masing-masing dan berpotensi semakin besar. Untuk itu, permudahkan karyawan untuk memberi umpan balik ke HRD baik secara langsung, melalui email maupun lewat kotak saran.

Organisasi yang sehat pasti memiliki komunikasi yang berjalan dengan baik ke segala arah.

4. Wewenang Manajer Atas Karyawan Baru

Peraturan perusahaan yang dapat merugikan karyawan selanjutnya yakni, ketika manajer atau atasan bisa seenaknya mengatur karyawan baru. Misalnya, memberlakukan masa percobaan (probation) dan tiba-tiba melakukan pemutusan kontrak tanpa adanya alasan yang jelas.

Baca juga:  Syarat Membuat NPWP di Kantor Pelayanan Pajak

Hal ini sering kali terjadi bukan karena karyawan tersebut tidak bekerja dengan baik, melainkan karena ketidakcocokan personal dengan manajer tersebut. Situasi ini tentu merupakan diskriminasi terhadap karyawan dan bisa mempengaruhi karyawan lainnya.

Selain itu, hal ini juga dapat merugikan perusahaan. Sebab, sangat mungkin mantan karyawan tersebut akan memberikan ulasan yang buruk, baik melalui media sosial, ataupun pada situs pencari kerja.

5. Peraturan Umum yang Terlalu Ketat

Peraturan perusahaan yang paling umum seperti jam masuk dan pulang kantor, gaya berpakaian, penggunaan smartphone dan lainnya terlalu ketat, menyebabkan kemungkinan akan banyak dilanggar oleh karyawan.

Bayangkan jika Anda dilarang untuk menggunakan handphone di jam kerja padahal sedang berada di kondisi anak atau orang tua yang sedang sakit. Bagaimana Anda bisa tahu kabar mereka jika tidak ada yang bisa dihubungi atau menghubungi?

Sebaiknya singkirkan peraturan yang terlalu kuno dan ganti dengan peraturan yang lebih profesional. Jangan anggap karyawan sebagai penjahat atau anak sekolah yang harus selalu diatur secara detail.

Melainkan, bangun hubungan dengan baik dan perlakukan karyawan sebagai seorang profesional yang sedang bekerja.

Sumber:
Forbes: Five Company Rules That Were Made To Be Broken

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *