9 Perilaku Atasan yang Membuat Karyawan Resign

perilaku atasan membuat karyawan resign

Keputusan karyawan untuk resign sering kali membuat kesal manajer, HRD dan bahkan pemilik perusahaan. Bagaimana tidak, perusahaan harus kembali mengeluarkan waktu, tenaga dan biaya untuk mencari karyawan baru sebagai pengganti karyawan yang resign.

Namun jika dilihat dari sudut pandang karyawan, mereka pasti memiliki alasan tertentu mengenai keputusannya untuk mengundurkan diri. Salah satu alasannya adalah justru disebabkan oleh perilaku atasan terhadap karyawan.

Mungkin Anda tidak menyadarinya, tetapi inilah beberapa perilaku atasan yang membuat karyawan resign:

1. Terlalu Banyak Memberikan Tugas

Mempekerjakan seorang karyawan terbaik secara maksimal memang hal yang ingin dilakukan oleh semua perusahaan. Anda ingin mendapatkan hasil berkualitas dari pemain terbaik dalam tim, tapi hal ini bisa membawa Anda ke ujung yang buruk.

Terlalu memberikan atau bahkan memaksakan karyawan untuk bekerja terlalu banyak bisa membuat mereka malah merasa seperti dihukum.

Karyawan yang bekerja terlalu produktif sama saja dengan karyawan yang tidak produktif. Pasalnya bekerja terlalu lama atau banyak malah akan membuat produktivitas karyawan menurun.

Jika Anda ingin memberikan pekerjaan tambahan kepada karyawan, maka sebaiknya Anda meningkatkan status mereka juga.

Karyawan berbakat akan menanggung beban kerja yang lebih berat daripada rekan lainnya, namun mereka tidak akan bertahan lama pada perusahaan jika mereka sendiri merasa tenggelam dalam tugas yang diberikan.

Kenaikan gaji, promosi dan perubahan posisi jabatan adalah cara yang baik untuk mengimbangi pemberian beban kerja yang berlebih kepada karyawan tertentu.

Jika Anda hanya menambah beban kerja tanpa adanya perubahan apapun yang menguntungkan karyawan, maka mereka akan mencari perusahaan lain yang lebih menghargai hasil kerja keras mereka.

2. Tidak Mengakui Hasil Pekerjaan Karyawan Atau Memberikan Reward

Jangan anggap remeh kekuatan pujian, terutama bagi para pegawai yang membutuhkan motivasi. Semua orang menyukai pujian, termasuk karyawan Anda yang telah bekerja keras demi perusahaan.

Manajer harus berkomunikasi dengan karyawan untuk mencari tahu apa hal-hal yang membuat mereka merasa senang. Tidak semua orang memprioritaskan kenaikan gaji, melainkan pengakuan publik.

Namun pada umumnya karyawan juga mengharapkan agar atasan bisa memberikan mereka reward lain seperti bonus sebagai bentuk pengakuan atas hasil kerja mereka.

Baca juga:  Perbedaan Visi & Misi Perusahaan Beserta Contoh

3. Tidak Peduli Terhadap Karyawan

Banyak karyawan yang memutuskan resign dengan alasan tidak memiliki hubungan yang baik dengan atasannya. Perusahaan yang baik akan memastikan para manajer untuk bisa menyeimbangkan peran mereka secara profesional, namun juga secara manusiawi.

Manajer yang baik memiliki hubungan yang sehat dengan karyawan. Misalnya saja merayakan ulang tahun, makan siang bersama, membantu pada saat karyawan menemukan kesulitan dan sebagainya.

Sementara itu manajer yang gagal adalah mereka yang tidak memiliki kepedulian terdahap karyawannya.

Tidak ada orang yang betah untuk bekerja seharian dengan suasana yang canggung karena tidak memiliki hubungan yang baik dengan atasan mereka.

4. Tidak Memegang Komitmen Sendiri

Menyebutkan janji terhadap karyawan akan menempatkan Anda pada dua pilihan, yaitu membuat mereka senang karena Anda menepati janji, atau malah membuat mereka kecewa karena Anda tak kunjung menepati janji.

Pasalnya, ada banyak kasus di mana karyawan dijanjikan banyak hal misalnya kenaikan gaji, bonus atau promosi. Namun janji tersebut tak ditepati walaupun karyawan sudah bekerja secara maksimal.

Jika Anda mementingkan komitmen dalam dunia kerja, maka Anda sendiri harus menunjukkan sikap tersebut kepada karyawan. Buktikan bahwa Anda dapat dipercaya dan patut untuk dihormati.

Jika atasan saja tak memegang komitmen dan dapat dipercaya, bagaimana karyawan bisa melakukannya?

5. Merekrut dan Memberikan Promosi Kepada Orang yang Salah

Karyawan yang berkualitas dan pekerja keras ingin bekerja dengan rekan kerja yang memiliki pemikiran sama dengan mereka.

Ketika manajer merekrut orang yang salah, maka hal itu bisa menurunkan semangat atau motivasi karyawan lama. Pasalnya, mereka harus bekerja dengan orang yang sama sekali tidak cocok atau bahkan tidak profesional.

Di samping itu, menaikkan jabatan kepada orang yang salah akan lebih memperburuk keadaan. Ketika karyawan lama sudah bekerja secara maksimal namun posisi mereka tergeserkan oleh orang yang sebenarnya tidak kompeten dalam bekerja, maka kondisi ini akan mendorong mereka untuk mengajukan resign.

6. Tidak Membiarkan Karyawan Melakukan Passion Mereka

Karyawan yang bertalenta adalah orang yang memiliki passion atau gairah terhadap sesuatu, misalnya perkembangan karir. Memberikan kesempatan kepada karyawan untuk meraih mimpi mereka akan meningkatkan produktivitas dan kepuasan dalam bekerja.

Baca juga:  Cara Menolak Tawaran Kerja dengan Sopan

Namun banyak manajer yang mengharuskan karyawan untuk duduk diam mengerjakan tugas sesuai dengan Key Performance Indicator (KPI) saja. Manajer seperti ini takut produktivitas dan fokus karyawan akan menurun jika diberikan kebebasan untuk melakukan hal lainnya.

Studi menunjukkan bahwa orang-orang yang mampu mengejar keinginan dirinya dalam arus bekerja akan memiliki pikiran fresh dan lima kali lebih produktif daripada yang “dikekang”.

7. Gagal Mengembangkan Kemampuan Karyawan

Ketika ditanya mengenai perhatian terhadap karyawan, para manajer biasanya “membela diri” dengan berbagai alasan seperti tidak ada waktu, tidak percaya kepada karyawan, kurangnya biaya mengadakan pelatihan dan sebagainya.

Manajer yang baik adalah manajer yang mampu memperhatikan dan mempedulikan karyawannya sebaik atau seburuk apapun mereka.

Jika Anda memiliki karyawan yang bertalenta, maka Anda memiliki banyak pilihan dan cara untuk mengembangkan kemampuan mereka.

Pada dasarnya semua karyawan menginginkan feedback dari atasan mereka dan tugas Anda adalah untuk memberikan hal itu, termasuk di dalamnya pengadaan pelatihan atau pengembangan kemampuan karyawan.

8. Gagal Mendorong Kreativitas Karyawan

Karyawan yang bertalenta selalu ingin membuat sesuatu yang baru dengan menggunakan kreativitas mereka. Jika Anda terlalu “kaku” dengan terlalu mengikuti aturan main yang ada, maka karyawan akan merasa terkekang dan membenci pekerjaan mereka. Perlu Anda ingat, sikap seperti itu tidak hanya akan merugikan karyawan, namun juga merugikan Anda dan perusahaan.

9. Tidak Bisa Memberikan Tantangan Secara Intelektual

Manajer yang hebat mampu menantang karyawannya untuk mencapai banyak hal yang mungkin pada mulanya tidak pernah dibayangkan. Manajer yang hebat juga tidak akan menetapkan tujuan yang umum, melainkan yang akan mendorong karyawan keluar dari zona nyamannya.

Kemudian, mereka tidak akan membiarkan karyawan melakukan semuanya sendiri, melainkan ikut turun ke lapangan dan membantu mereka menjadi sukses.

Dari hal tersebut dapat disimpulkan bahwa, ketika karyawan berbakat diminta melakukan hal yang mudah atau biasa saja, mereka akan merasa bosan dan mencari pekerjaan lain yang bisa menantang intelek mereka.

Sumber:
HuffingtonPost: 9 Things That Make Good Employees Quit

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *