Resiliensi & Pengaruhnya Terhadap Kinerja Karyawan

resiliensi kerja

Ada banyak tipe atau sifat yang dimiliki para karyawan dalam menjalankan kegiatannya. Ada karyawan yang mudah frustasi, mudah belajar, santai menjalani pekerjaan, tidak bisa bekerja sama dalam tim dan sebagainya.

Semua sifat tersebut akan secara langsung mempengaruhi efektivitas seseorang dalam mengerjakan tugas-tugasnya. Kali ini, salah satu sifat mengenai pekerja yang akan dibahas adalah resiliensi.

Resiliensi adalah kemampuan seseorang untuk berada dalam situasi yang menekan namun dapat tetap berusaha memecahkan masalahnya.

Pekerja tersebut juga masih bisa mengubah keadaan yang mengganggu ke arah yang baru dan lebih baik dari sebelumnya sehingga menjadi memuaskan dalam prosesnya (Salvatore R. Maddi and Deborah M.Khoshaba, 2005).

Individu yang resiliensi mampu menghadapi kesulitan dan trauma. Selain itu, mereka juga dapat mencari pengalaman-pengalaman baru yang menantang karena mau belajar dan berjuang menghadapi kesulitan.

Mereka akan mendorong diri sendiri untuk mencapai tujuan sehingga dapat mengembangkan diri.

Ketika masalah datang menghampiri, individu tersebut mampu menyelesaikan konflik dan mengubah situasi yang mengganggu ke arah lain. Ia akan belajar dan menjadi lebih sukses serta merasa puas dari proses sebelumnya.

Baca juga:  Cara Berkomunikasi yang Baik dengan Bawahan di Kantor

Beberapa fakta yang menunjukan bahwa resiliensi dibutuhkan di dunia kerja :

  • Sama seperti perkembangan teknologi, perubahan dan perkembangan di dunia kerja pun mau tidak mau dan secara tidak sadar pasti kita ikuti. Baik itu adalah perubahan yang semakin menuntut efektivitas kerja Anda maupun tidak, perubahan tersebut menuntut Anda untuk tetap dihadapi.
  • Kemampuan resiliensi bukan kemampuan yang langsung muncul sejak lahir, tetapi sesuatu yang dapat dipelajari dan diperbaiki. Kata kunci untuk dapat menggambarkan kemampuan ini adalah ketahanan diri (hardiness).

Perilaku yang diperlukan untuk menjadi resiliensi (3C) :

Commitment

Merupakan sejauh mana keterikatan dan keterlibatan karyawan dengan pekerjaannya meskipun sedang berada di dalam kondisi yang sangat menekan.

Pada dasarnya, seorang individu akan melibatkan diri dengan orang-orang dan peristiwa yang ada di sekitarnya meskipun ia mengalami situasi yang menekan.

Sikap komitmen membentuk pemahaman individu akan berbagai peristiwa yang terjadi dan menjadi modal dasar untuk mengevaluasi situasi yang akan datang.

Individu yang memiliki komitmen bekerja tidak akan menjadi negatif dan produktif walaupun ia sedang berada di suasana yang menekan.

Control

Maksud disini adalah sejauh mana karyawan akan berusaha mengarahkan tindakannya untuk mencari solusi positif terhadap pekerjaannya.

Baca juga:  8 Kesalahan Fatal Saat Wawancara Kerja

Hal ini dilakukan guna meningkatkan hasil kerjanya ketika menghadapi situasi yang menekan dengan mencari solusi terbaik ketika menghadapi masalah atau kesulitan di pekerjaannya.

Individu yang mampu melakukan kontrol akan tetap berusaha untuk memberikan pengaruh yang positif pada setiap perubahan yang terjadi. Ia tidak akan membiarkan dirinya hanyut dalam kepasifan dan ketidakberdayaan.

Jika individu percaya bahwa ia dapat mengendalikan perubahan yang penuh tekanan, maka ia akan lebih siap untuk memaksa diri untuk menangani masalah yang ada.

Challenge

Challenge (tantangan) adalah sejauh mana individu memandang perubahan atau situasi yang menekan sebagai sarana untuk mengembangkan dirinya.

Individu yang mampu menghadapi tantangan akan lebih memilih untuk menghadapi situasi apapun daripada menghindarinya.

Selain itu, ia juga mencoba untuk memahaminya, mempelajarinya dan mengatasinya. Orang yang memiliki kemampuan ini akan lebih termotivasi untuk bekerja meskipun situasinya sulit dan mau belajar dari pengalaman yang ada.

Referensi:
GoogleBooks: Resilience at Work: How to Succeed No Matter what Life Throws at You

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *